Sejarah Sibolga
Dari Poncan Ketek ke Sibolga Modern
Sebelum kota di daratan berdiri, teluk ini dijangkarkan oleh Pulau Poncan Ketek, tempat Datuk Bandar mengawasi perdagangan kapur barus, damar, rempah-rempah, dan emas.
Pada abad ke-19, Belanda memindahkan pelabuhan ke daratan sebagai Bandar Baru dan menjadikan Sibolga ibu kota Residensi Tapanuli, mengirim kopi, karet, dan damar hutan ke Eropa.
Setelah merdeka, Sibolga menjadi Daerah Otonom pada tahun 1946 dan Kotapraja pada tahun 1956. Kini ia adalah kotamadya terkecil di Indonesia, namun tetap menjadi gerbang penting menuju Nias dan rumah bagi banyak budaya.
1700-an
Poncan Ketek dan Datuk Bandar

Sebelum Sibolga berdiri di daratan, pusat perdagangannya berada di Pulau Poncan Ketek di teluk. Di bawah pemimpin bergelar Datuk Bandar, para pelaut bertukar kapur barus, damar, rempah-rempah, dan emas. Air Teluk Tapian Nauli yang dalam dan tenang menjadikannya salah satu tempat berlabuh teraman di pantai barat Sumatera.
1800-an
Residensi Tapanuli Belanda

Belanda menganggap Poncan Ketek terlalu kecil untuk pelabuhan yang berkembang, sehingga mereka mendirikan Bandar Baru di daratan, Sibolga seperti yang kita kenal sekarang. Kota ini menjadi ibu kota Residensi Tapanuli dan pusat pengiriman kopi, karet, serta damar hutan ke Eropa. Gudang, kantor, dan pemukiman Eropa berjejer di lereng di atas teluk.
1900-an
Kota Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Sibolga ditetapkan sebagai Daerah Otonom pada tahun 1946 dan menjadi Kotapraja berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1956. Kini ia adalah kotamadya terkecil di Indonesia berdasarkan luas wilayah, namun tetap menjadi pelabuhan transit penting, khususnya menuju Pulau Nias, serta rumah bagi masyarakat multi-etnis Batak, Minangkabau, Melayu, Nias, Jawa, dan Tionghoa.
